Pituah Bijak Tahunan Sultan Banjar

Pituah Bijak Tahunan Sultan Banjar


 
 

Pituah Bijak Tahunan Sultan Banjar Pada Milad Ke 511

 

ASSALAMUALAIKUM WR.WB
 
Tanam mangga bercabang-cabang
Tiada lupa tanam kasturi
Hati senang Tuan-puan Bapak-ibu datang
Tandanya mendoa berharap ridha Ilahi
 

Terima kasih ulun sampaikan atas perhatian dan kedatangan di negeri serambi Mekkah Martapura dengan segala suka cita dimana bermula kebangkitan kesultanan yang kita cinta untuk mengangkat darjah dan maruah bangsa

 
Hadirin sekalian yang ulun muliakan,
 

Milad 511 atau tahun 2015 ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya memiliki makna sebagai pengingat tentang amanah teguhnya adat-beradat  sebagai sebuah tekad seluruh zuriat  dalam menegakkan nilai-nilai adat yang bersendikan syariat. Usaha Ini bagi ulun dan seluruh zuriat adalah amanah yang berat, namun bukan berarti sebuah kerja yang tiada manfaat/, selama seluruh zuriat dan bangsa Banjar istiqomah dan berkomitmen kuat.

 

Milad kali ini mengangkat tema ‘Agama ditegakkan, Adat diteguhkan, Rakyat dirakatkan, bukanlah perkara yang tiada memiliki makna. Ianya ingin menegaskan bahwa nilai – nilai agama haruslah menjadi pondasi yang kuat bagi kehidupan bangsa Banjar di negeri ini dan dimana pun berada. Kesultanan bertanggung jawab atas amanah untuk menegakkan agama ini sebagaimana sejak berikrarnya, Raja pertama YM Sultan Suriansyah hingga sultan-sultan berikutnya. Perjalanan amanah dan tanggung jawab ini telah melahirkan pencirian khusus terhadap bangsa Banjar yang Islami dan bangsa yang memiliki peradaban dan berbudaya.

 

Maka tiada bangsa lain meragukan lagi dengan identitas bangsa Banjar dimana pun ia berada dan bermukim dipastikan menegakkan rukun Islam dan rukun iman. Tegaknya agama dalam kebijakan kesultanan di masa Raja ke-17, Sultan Adam Alwastik Billah yang memerintah 1825 – 1857, membuktikan kembali ketegasan agama menjadi pondasi hingga menjadi adat bagi bangsa Banjar hingga hari ini. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa pandangan kehadiran Kesultanan di abad milinium ini bukanlah sekadar dalam konteks pada ranah urusan kebudayaan dalam arti sempit, tetapi sebagai pemaknaan luas yang menjunjung nilai-nilai agama, adat dan maruah bangsa Banjar. Untuk itu, kita berani mengatakan, bangsa yang masih menjaga dan menjunjung peradaban Melayu Islam di selatan Tanah Borneo ini adalah bangsa Banjar dan Kesultanan Banjar.

 
Hadirin sekalian yang ulun muliakan,
 

Tantangan globalisasi, dimana masyarakat mulai permisif dan menjadikan urusan dunia sebagai yang utama, adalah pintu awal tergerusnya nilai-nilai agama bagi suatu masyarakat atau bangsa. Ini bisa menjadi penanda akan tergerusnya karakter, identitas dan maruah bangsa. Maka dari itu Milad Kesultanan Banjar, sekali lagi sebagai pengingat sejarah, tanggung jawab dan amanah sesuai dengan zamannya.
 
Peneguhan adat bagi bangsa Banjar melewati proses yang panjang hingga menjadi cerminan dan tetap bertahan sampai saat ini. Sultan-sultan terdahulu telah berkomitmen menjadikan setiap gerak dan napas kehidupan bangsa Banjar bersendikan agama Islam. Agama harus menjadi dasar pijakan bagi adat, budaya dan tradisi dengan keluhuran dan keberkahan. Untuk itu adat, budaya dan tradisi Kesultanan Banjar luruh dan takzim kepada ajaran agama Islam, maka tatanan nilai-nilai adat tradisi Banjar haruslah berpegang pada agama. Ini untuk menegaskan bahwa adat tradisi dan kearifan budaya bangsa Banjar tidak ada pemisahan dengan nilai-nilai keluhuran agama terlebih di zaman sekarang dalam menjawab zamannya sendiri.

 

Ulun meyakini semua Raja-Sultan yang berhadir disini, Para Tuan Guru, Pemangku Adat, Pemangku Kuasa Negeri dan seluruh masyarakat sangat sadar bahwa globalisasi telah mulai mampu memisahkan antara adat bersendikan Islam dengan adat bersendikan yang lain.
 
Maka dari itu, ulun ingin menyampaikan pituah, semodern apapun zaman dan tantangan anak-anak bangsa Banjar, setinggi apapun pendidikan anak-anak bangsa Banjar, seindah apapun karya sastra dan seni anak-anak bangsa Banjar, sehebat apapun jabatan dan amanah dipegang anak-anak bangsa Banjar harus luruh dan takzim kepada ajaran agama Islam. Inilah yang dimaksudkan dengan meneguhkan adat agar menjadikan hidup mereka baiman bauntung batuah sepanjang masa.

 
Hadirin sekalian yang diRahmati Allah SWT
 

Pada kesempatan ini, ulun ingin menyampaikan. Tiadalah tegak agama, jika tiada ummat meneguhkannya menjadi adat kehidupannya. Tiadalah rakat dan kuat keadaannya, jika tiada pemimpin mengutamakan rakyatnya. Tegaknya pilar agama, teguhnya adat budaya, dan rakyat yang diutamakan pemimpinnya adalah harapan bagi kita semua. Rakyat yang diutamakan adalah bagaimana terpenuhinya hak-hak pelayanan publiknya, terjaminnya persatuan dan kesatuannnya, terjaminnya rasa keadilannya dan merdekanya dalam menentukan pilihannya. Untuk itu kepada rakyat sekalian, mari kita mendoakan semoga pemilukada serentak di negara kita, berjalan dengan damai, partisipasi rakyat meningkat dan Kalimantan Selatan akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang menegakkan agama, meneguhkan adat – budaya serta yang MENGUTAMAKAN RAKYATNYA, bukan kepentingan kelompoknya.

 
Hadirin yang ulun muliakan
 

Bangsa-bangsa di dunia sudah membuktikan bahwa adat dan tradisi luhur masih bisa menjadi pengawal perkembangan sebuah bangsa, apalagi adat dan tradisi itu merupakan karya cipta manusia yang didedikasikan untuk menciptakan harmoni kepentingan manusia dan alam sekitarnya dan itu telah dibuktikan oleh banyak negara yang menjunjung adat-budayanya.

 

Untuk itu, kehadiran kesultanan di nusantara bukanlah sebagai pintu perpecahan antar anak bangsa, tetapi justru kehadiran keraton dan kesultanan nusantara serta lembaga adat lainnya didedikasikan untuk memperkuat ke-Bhineka Tunggal Ika-an bangsa sebagaimana motto Garuda Pancasila. Identitas lokal yang dipancarkan lewat keraton seluruh nusantara sebagai pusat kebudayaan semakin memperkaya khazanah ke-Indonesiaan kita.

 

Sebab keraton dan kesultanan akan melakukan apa-apa adat tradisi yang belum dan tidak dilakukan oleh negara, dan menjaga serta mengawal adat tradisi yang belum dan tidak terkawal oleh negara. Sinergi antara keraton/kesultanan menjadi bagian penting sebagaimana diamanatkan Undang-undang, bukan dicurigai sebagai instrumen politik yang justru memperlemah misi bangsa Indonesia yang luhur dalam memperkuat jati diri bangsa.

 

Perlu ulun sampaikan, banyak harapan yang disampaikan kepada ulun baik dari masyarakat Banjar perantuan Indonesia maupun masyarakat Banjar Malaysia-Brunei, agar Kesultanan Banjar di abad ini menjadi “jalan baru’ bagi kokohnya keluhuran adat yang bersendikan Islam dalam rangka menjawab keniscayaan globalisasi saat ini. Maka dari itu Kesultanan Banjar, terus melakukan ijtihad kebudayaan dan pengemban amanah untuk memimpin dan mengayomi rakyat menuju kesejahteraan, dan bangsa Banjar yang berkebudayaan, berperadaban dan bermartabat.

 
Hadirin sekalian yang dimuliakan Allah SWT,
 

Pada milad kali ini, Kesultanan Banjar kembali memberikan Anugerah Gelar Keagungan kepada tokoh-tokoh masyarakat baik tingkat nasional, tingkat lokal maupun di perantauan yang telah mendedikasikan dirinya untuk kepentingan negara, masyarakat, pembangunan dan kebudayaan bangsanya. Kemudian juga memberikan Anugerah Astaprana kepada sastrawan, seniman, budayawan yang mendedikasikan dirinya dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Banjar. Demikian pula memberikan Anugerah Puspawana kepada pegiat pelestari lingkungan dan pelestari flora –fauna khas Banjar. Kepadanya semoga menjadi inspirasi dan tauladan bagi masyarakat untuk menjadi lebih baik.

 
Hadirin sekalian yang ulun muliakan
 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa pahlawannya. Kesultanan Banjar kali ini memberikan penghargaan setinggi-tinggi dengan Anugerah WIRASANA /Anugerah Pahlawan Negeri Banjar kepada Almarhum YM Pangeran Hidayatullah Bin Pangeran Abdurrahman dan Almarhum YM Panglima Wangkang bin Pembakal Kendet. Kedua putera Banjar ini adalah diantara pembesar dan orang-orang yang menjaga maruah bangsanya yang berperang jihad Fisabilillah kepada penjajah kolonial Belanda. Selanjutnya anugerah Wirasana diberikan kepada Almarhum YM Pangeran Muhammad Noor bin Pangeran Muhammad Ali, pejuang merebut kemerdekaan dengan misi MN-101, Gubernur Pertama Kalimantan, dan Menteri Pekerjaan Umum (1956-1959). Maka sepantasnya bangsa Banjar bangga menyebut dirinya sebagai bangsa pejuang dan bangsa pahlawan.

 

Dasar pemberian gelar Wirasana ini, selain sejarah telah membuktikan, Kesultanan Banjar juga sudah menerbitkan buku dan seminar yang berkaitan dengan ketiga putera bangsa Banjar ini. Tujuan utama pemberian anugerah Wirasana ini adalah sebagai jalan pembuka untuk menjadikan mereka sebagai pahlawan nasional. Kita berharap semua elemen masyarakat di Kalimantan Selatan dan di manapun berada turut serta mendorong menjadikan Pahlawan Nasional. Dan kepahlawanan mereka semoga menjadi inspirasi dan semangat bagi bangsa Banjar untuk selalu menjadi wira dalam kehidupan dan tanggung jawabnya di masyarakat.

 

Sebelum ulun mengakhiri Pidato Tahunan Milad ini, tak lupa ulun menyampaikan berganda-ganda terima kasih kepada semua undangan yang hadir, semua pihak yang mendukung pelaksanaan milad ini, kepada masyarakat Banjar dimanapun berada. Semoga apa-apa perkara yang kita niatkan dan kerjakan selalu mendapatkan perlindungan dan berkah dari Allah SWT. Amin ya rabbal alamin.

 
Jika agama ditegakkan, niscaya iman akan tertanam
Jika adat diteguhkan, niscaya adab membawa kebaikan
Jika rakyat diutamakan, niscaya berkah bertuah bertebaran
 
Wasslamu alaikum WR.WB.
Martapura, 18 Muharram 1437H/ 31 Oktober 2015
 
 
SULTAN HAJI KHAIRUL SALEH AL MU’TASHIM BILLAH