Pidato Sultan Banjar Milad ke-512

Pidato Sultan Banjar Milad ke-512


 
 

PIDATO TAHUNAN

SULTAN HAJI KHAIRUL SALEH AL MU’TASHIM BILLAH
PADA MILAD 512 KESULTANAN BANJAR

 
ASSALAMUALAIKUM WR.WB
 
Terima kasih ulun sampaikan atas perhatian dan kedatangan di Banua Bangsa pejuang dan pahlawan dengan segala suka cita kami tertawan di masjid sultan penuh sejarah penanda Islam yang dimuliakan kita semua sungguh bertuah selamat hidup sampai akhir zaman.

Hadirin sekalian yang ulun muliakan,

 

Milad 512 atau tahun 2016 ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya memiliki makna sebagai pengingat tentang amanah teguhnya adat-beradat  sebagai sebuah tekad seluruh zuriat  dalam menegakkan nilai-nilai adat yang bersendikan syariat. Usaha Ini bagi ulun dan seluruh zuriat adalah amanah yang berat, namun bukan berarti sebuah kerja yang tiada manfaat, selama seluruh zuriat dan bangsa Banjar istiqomah dan berkomitmen kuat.

 

Milad kali ini mengangkat tema ‘Sejarah dimarwahkan, Adat dipekertikan, Agama dimuliakan. Kesultanan mengingatkan kepada masyarakat bahwa sejarah dimaruahkan memiliki makna mendalam untuk menegaskan bahwa kehadiran bangsa Banjar hari ini memiliki rangkaian yang kuat dan erat dengan masa lalu. Ini adalah sebuah keniscayaan sebuah bangsa yang lahir untuk maju dan berperadaban dan mewariskan kebaikan. Kesultanan berpendapat, jika sejarah dijunjung dan disanjung menjadi pelajaran untuk menapaki kehidupan yang lebih baik. Jika sejarah diukir dan diteladani akan menorehkan takdir kegemilangan pada generasinya. Bangsa-bangsa besar adalah bangsa-bangsa yang tetap menjunjung keteladanan pada pengalaman masa lalunya.

 

Inilah yang menjadikan sejarah sebagai sebuah harga diri dan maruah yang keniscayaannya akan dikenang zaman.

 

Adat dipekertikan adalah buah karya laku tindak dan budi manusia dalam menghormati nikmat hidup yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa. Adat dan adab seyogyanya menjadi alat dalam menakar tata lalu dan kesantunan. Kesultanan Banjar telah mewariskan bagaimana tata laku dan kepatutan yang telah diwariskan. Tata laku dan pekerti bangsa Banjar semuanya tiada lepas dari nilai-nilai Agama Islam. Bahkan diamanahkan bagaimana tata adab dan adat memimpin, bagaimana bekerja dan berniaga, bagaimana adab menuntut ilmu, bagaimana adab dan adat bermasyarakat bahkan bagaimana adab bergaul dengan ragam suku bangsa.

 

Kita semua tentu sangat prihatin atas kondisi zaman hari ini yang rentan menjadi generasi permisif, mengabaikan tata laku kesantunan perbuatan dan perkataan. Nilai-nilai luhur keadaban dan keadatan ini seyogyanya tetap menjadi junjungan kita semua, sebab sebagaimana dalam pepatah; bertanam tebu dibibir semestinya pula bertanam tebu dihati. Selasih sangkakan mayang, orang yang kasih sangkakan sayang.

 
Inilah adat yang diperkertikan, kemana saja membawa badan insha Allah hidup beruntung dan beriman.

Agama dimuliakan bermakna tiada yang menafikan Kesultanan Banjar telah meletakkan tonggak adat bersendikan syara’, syara’ bersendikan Kitabullah. Semua perkara-perkara kehidupan bangsa Banjar telah ditakdirkan mengikut dan memedomani ajaran agama Islam. Tiada dipungkiri bangsa Banjar dikenal se-antero negeri sebagai bangsa yang agamis dan bangsa yang memuliakan agama. Keberkahan suatu negeri adalah jika pemimpin dan masyarakatnya mengamalkan dan mendakwahkan nilai-nilai agama. Kemajuan suatu negeri jika masyarakat patuh dengan pemimpinnya. Kemuliaan suatu negeri jika masyarakat takzim dengan tuan guru dan ulamanya. Kehormatan suatu negeri jika masyarakat santun dengan sesamanya. Perkara-perkara yang demikian itu, tiadalah ianya akan Berjaya apabila tiada diamalkan oleh seluruh masyarakatnya.

 
Hadirin sekalian yang ulun muliakan,

Untuk itu, kita berani mengatakan, bangsa yang masih menjaga dan menjunjung sejarah peradaban nilai-nilai Melayu Islam di selatan Tanah Borneo ini adalah bangsa Banjar dan Kesultanan Banjar. Agama akan menggenapi adat, budaya dan tradisi dengan keluhuran dan keberkahan. Adat tradisi dan kearifan budaya bangsa Banjar tidak ada pemisahan dengan nilai-nilai keluhuran agama terlebih di zaman sekarang dalam menjawab zamannya sendiri.

 

Tentu saja, Kesultanan bertanggung jawab atas amanah untuk menegakkan agama ini sebagaimana sejak berikrarnya, Raja pertama YM Sultan Suriansyah hingga sultan-sultan berikutnya. Perjalanan amanah dan tanggung jawab ini telah melahirkan pencirian khusus terhadap bangsa Banjar yang Islami dan bangsa yang memiliki peradaban dan berbudaya. Lebih-lebih perlawanan sengit kepada penjajah yang ingin meruntuhkan dienul Islam di negeri Banjar sehingga menorehkan bangsa ini menjadi bangsa pejuang dan bangsa pahlawan. Maka dari itu, ulun tidak bosan-bosannya menyampaikan pituah, semaju apapun zaman dan tantangan anak-anak bangsa Banjar, setinggi apapun pendidikan anak-anak bangsa Banjar, seindah apapun karya sastra dan seni anak-anak bangsa Banjar, sehebat apapun jabatan dan amanah dipegang anak-anak bangsa Banjar harus luruh dan takzim kepada ajaran agama Islam. Inilah yang ulun maksudkan dengan memarwahkan sejarah, mempekertikan adat dan memuliakan agama untuk negeri Banjar nang baiman bauntung batuah sepanjang masa.

 

Hadirin sekalian yang ulun muliakan,
 
Pada kesempatan ini ulun menyampaikan penghargaan setinggi-tinggi kepada seluruh masyarakat sekitar kawasan Masjid Sultan Suriansyah ini yang senantiasa turut menjaga kemaruahan masjid ini. Bagaimana pun masjid bersejarah di acara tempat kita ini adalah masjid yang membesarkan dan menjayakan bangsa kita dan membuktikan adanya kita hari ini.

 

Ulun juga menyampaikan terima kasih dan takzim setingginya kepada Pemerintah Kota Banjarmasin dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang mendukung terselenggaranya kegiatan Milad Kesultanan Banjar 512 ini. Tentu saja Kesultanan menjadi bagian dari banua ini, akan turut serta berpartisipasi dalam pembangunan nilai-nilai keadatan dan kebudayaan untuk kepentingan masyarakat banyak. Pemerintah dan Kesultanan saling mengisi memenuhi kebutuhan rasa rakyat diperjalanan jaman.

 

Pada milad kali ini, Kesultanan Banjar kembali memberikan Anugerah Gelar Keagungan kepada tokoh-tokoh masyarakat baik tingkat nasional, tingkat lokal maupun di perantauan yang telah mendedikasikan dirinya untuk kepentingan negara, masyarakat, pembangunan dan kebudayaan bangsanya.

 

Hari ini kita tentu berbangga pula kehadiran Bapak Jenderal (Purn) TNI Prof DR AM. Hendropriyono yang mendapatkan anugerah gelar keagungan Pangeran Harya Hikmadiraja yang merupakan trah kerabat Kesultanan Banjar yakni leluhur beliau Datuk Raden Tumenggung Soeria Koesuma Ronggo di Banjarmasin. Penganugerahan ini bahwa beliau adalah tokoh nasional yang mendarmabaktikan dirinya untuk bangsa dan Negara sebagai symbol kiprah kecangkalan dan dedikasi warga banua.

 

Kemudian juga kita memberikan anugerah kepada Tuan Guru Husin Nafarin sebagai tokoh agama, dan ini juga didasarkan wafatnya Tuan Guru Besar Anang Jazuli Seban sebagai Mufti Kesultanan Banjar.

 

Pada kesempatan ini ulun ingin sampaikan pula, bahwa Pangeran Samudera sewaktu dalam pengasingan pernah menjadi anak angkat tokoh Bakumpai. Bahkan tokoh inilah yang turut mendirikan Kota Banjarmasin bahkan memasangkan mahkota kepada Pangeran Samudera atau Pangeran Suriansyah saat penobatan menjadi Sultan Pertama Kesultanan Banjar. Tokoh itu adalah Datuk Darta Suta, leluhurnya walikota Banjarmasin bapak Ibnu Sina. Kesultanan memberikan apresiasi kepada Walikota Banjarmasin karena meletakkan kebijakan pembangunan kota Banjarmasin Baiman sejalan dengan misi-misi Kesultanan Banjar yang menjunjung adab dan agama.
 
Semoga dengan pemberian anugerah kebangsawanan ini mampu menjadi penanda sejarah tentang marwah anak banua Banjar, dianya menjadi contoh pekerti generasi selanjutnya dan sebagai persembahan bagi negeri bauntung baiman dalam meraih perlindungan dari Allah SWT. Aamiin ya Rabbal Alamin.

 

Sebelum ulun mengakhiri Pidato Tahunan Milad ini, tak lupa ulun menyampaikan berganda-ganda terima kasih kepada semua undangan yang hadir, semua pihak yang mendukung pelaksanaan milad ini, kepada masyarakat Banjar dimanapun berada. Semoga apa-apa perkara yang kita niatkan dan kerjakan selalu mendapatkan perlindungan dan berkah dari Allah SWT. Amin ya rabbal alamin.

 
Jika sejarah dimarwahkan, alamat negeri dikenang jaman.
Jika adat dipekertikan, alamat badan bauntung baiman.
Jika agama dimuliakan, alamat sekalian alam dilindungi Tuhan.
 
Wassalamu alaikum WR.WB.
Banjarmasin, 21 Muharram 1438H/ 22 Oktober 2016
 
SULTAN HAJI KHAIRUL SALEH AL MU’TASHIM BILLAH