Perang Banjar Barito 1859 – 1906

Perang Banjar Barito 1859 – 1906


 

Sekapur Sirih

Sultan Haji Kharul Saleh Al Mu’tashim Billah

untuk buku Perang Banjar Barito 1859 -1906

Assalamu’alaikum w. w.

 

Dengan disertai rasa syukur dan bahagia, ulun menyambut baik penyusunan dan penerbitan buku yang berjudul “Perang Banjar Barito 1859 – 1906″ yang disusun oleh saudara Ahmad Barjie B.

 

Perang Banjar Barito menjadi catatan sejarah penting bagi Kesultanan Banjar dan rakyatnya yang terjadi dalam rentang waktu 1859 – 1906. Bahkan jika kita ikuti uraian yang dipaparkan oleh Ahmad Barjie B, prolog perang Banjar Barito tersebut sudah terjadi sejak awal ke-17 dan 18. Dalam masa-masa itu kedua pihak yaitu Kesultanan Banjar dengan Belanda (VOC) sudah berhubungan, namun hubungan tersebut lebih banyak diwarnai konflik ketimbang akomodasi, kedua belah pihak telah saling serang, bunuh dan usir. Hal itu disebabkan VOC datang dengan motif ingin memonopoli dan menguasai perdagangan, mereka suka mengadu domba memancing di air keruh, guna mencapai tujuan utama yaitu untuk menguasai dan menjajah bangsa kita.

 

Tanpa mengurangi rasa hormat kami terhadap beberapa perang lainnya di Nusantara, tidak diragukan Perang Banjar Barito tergolong besar, dahsyat dan lama. Hal itu karena: Pertama, pihak Kesultanan Banjar dibawah kepemimpinan Pangeran Hidayatullah, Pangeran Antasari, Demang Lehman dan lain-lain, mampu memobilisasi kekuatan rakyat, ulama dan tokoh masyarakat untuk sama-sama berjuang melawan penjajah Belanda. Bahwa peperangan ini bukanlah upaya para bangsawan Kesultanan Banjar untuk mengembalikan tahta, tetapi perang untuk mengangkat harkat, martabat atau maruah rakyat dan banua Banjar sendiri. Terbukti ketika pihak Belanda mengajak berdamai dan bersedia mengangkat Hidayatullah sebagai Sultan Banjar asalkan membatalkan perlawanan, ternyata beliau menolak.

 

Kedua, peperangan ini terjadi dalam wilayah yang sangat luas, yaitu mencakup wilayah Kalimantan (Selatan) sekarang, wilayah Barito Kalimantan Tengah dan perbatasan dengan Kalimantan Timur. Juga melibatkan suku Banjar, Dayak dan Bugis di satu sisi melawan Belanda dan antek-anteknya di sisi lain. Didukung oleh alam hutan, pegunungan, sungai dan anak sungai maka para pejuang mudah dalam melakukan peperangan secara gerilya. Strategi gerilya terbukti sangat ampuh untuk melawan musuh yang memiliki jumlah tentara yang lebih besar dan terlatih serta persenjataan yang lebih canggih untuk ukuran masanya.

 

Ketiga, peperangan ini menjadi dahsyat karena para pemimpin perang bersama para ulama mampu memobilisasi rakyat untuk berperang fi sabilillah. Perang selain untuk membebaskan negeri dari cengkeraman penjajah, juga untuk memperjuangkan kehormatan agama. Itulah sebabnya ada gerakan “beratib beramal” dan sejenisnya sebagai bentuk gerakan spiritual untuk memperkuat fisik dan mental pejuang. Meskipun persenjataan pejuang serba terbatas dan sederhana, namun militansi dan semangat perjuangan mereka sangat tinggi. Para pejuang datang tumbuh hilang berganti, estafet kepemimpinan perjuangan berlangsung antargenerasi, seperti halnya Pangeran Antasari setelah wafat diteruskan oleh putranya Sultan Muhammad Seman, Muhammad Said, dan cucunya Ratu Zaleha. Begitu juga Tumenggung Surapati sebagai tangan kanan Pangeran Antasari di tanah Barito, setelah wafat diteruskan oleh putranya Tumenggung Jidan, Tumenggung Kornel dan sebagainya.

 

Keempat, kedahsyatan perang Banjar Barito juga terlihat dari banyaknya korban tewas, baik di pihak Belanda maupun pejuang dan rakyat Banjar Barito. Bahkan salah satu episode Perang Banjar Barito, yaitu tenggelamnya kapal perang Onrust disertai tewasnya sejumlah pemimpin dan anggota pasukan Belanda di Sungai Barito, sangat memukul Belanda sehingga dijadikan sebagai Hari Berkabung Nasional di negerinya. Belanda hampir menyerah dan putus asa sehingga ditempuhlah cara-cara licik untuk mengakhiri perang. Banyaknya pejuang kita yang dibuang atau rakyat yang terpaksa bermigrasi ke luar Kalimantan untuk mencari daerah aman, menunjukkan pula betapa dahsyat dan eskalatifnya perang Banjar Barito

 

Karena besar, dahsyat dan lamanya peperangan, tidak mengherankan bekas dan dampaknya masih terasa sampai sekarang. Sejumlah dampak tersebut selain perlu dikaji, tentu penting diupayakan langkah-langkah pemulihan agar mata rantai sejarah tidak terputus dan ke depan banua Banjar dapat lebih maju. Kebangkitan kembali Kesultanan Banjar dalam ranah budaya, salah satu tujuannya adalah untuk merekonstruksi sejarah Banjar tersebut.

 

Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih kepada Ahmad Barjie B yang berkenan melowongkan waktu, mengerahkan tenaga dan pikiran untuk menyusun buku ini. Meskipun terdahulu pernah disusun buku yang isinya berkaitan dengan Perang Banjar seperti karya Amir Hasan Bondan, Idwar Saleh, Gusti Mayur, Suriansyah Ideham dkk., HM Said, Yanuar Ikbar dan sebagainya, namun buku ini tetap penting karena berusaha mendeskripsikan peperangan dan menganalisisnya dengan pendekatan yang berbeda. Buku ini dapat menambah khasanah informasi kesejarahan Banjar yang bermanfaat bagi kita semua, terutama generasi muda.

 

Semoga semua tokoh pejuang dan rakyat yang berjasa dalam Perang Banjar Barito, sebagai pejuang fi sabilillah li a’lai kalimatillah, yang telah rela mengorbankan jiwa-raga dan harta-bendanya dahulu mendapatkan ganjaran pahala dan balasan surga dari Allah swt. Dan kita sebagai generasi yang hidup di belakang dapat mengambil pelajaran berharga, meneruskan semangat dan cita-cita mulia perjuangan mereka. Semoga kita senantiasa diberikan petunjuk dan kekuatan dan segala usaha kita diridhai oleh Allah swt. Amin.

 

Wassalamu’alaikum w. w.
Martapura, 12 Rabiul Awwal 1436 H/3 Januari 2015 M

 

Sultan Haji Khairul Saleh Al Mu’tashim Billah