Biografi Sultan Haji Khairul Saleh

Biografi Sultan Haji Khairul Saleh


Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah

 

 

Sultan H Khairul Saleh

Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah terlahir dengan nama Gusti Khairul Saleh, adalah dzuriat dari Pangeran Singosari bin Sultan Sulaiman Al-Mu’tamidillah. Lahir di Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan, 19 Sya’ban 1383 H, ( 5 Januari 1964).

 

Putra  dari pasangan H. Pangeran Jumbri dan Hj Kartinah ini sejak masa anak-anak dikenal para kerabat orangtuanya sebagi anak yang santun dan cerdas. Jika dia bertanya tidak akan tuntas hanya dengan satu jawaban, tetapi akan berangkai dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Karakter ini melekat erat hingga dia menginjak dewasa.

 

Perhatian dan kepedulian Gusti Khairul Saleh dengan kerabat, keluarga termasuk para dzuriat sangat kental. Ini terlihat dari pembawaan Gusti Khairul Saleh muda yang tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengenal lebih jauh tentang dzuriat kerabat dan keluarganya.

 

Karena kuatnya perhatian dan kepedulian Gusti Khairul Saleh dengan kerabat, keluarga termasuk para dzuriat ia berupaya menginventarisir silsilah keluarga dan kekerabatannya. Untuk itu ia bahkan melakukan penelitian mandiri untuk merangkai benang sisilah keluarga dan kerabat. Salah seorang tokoh akademisi yang menjadi mentor dan paling sering diminta pendapat untuk membantu penelitiannya itu adalah almarhum Prof. Dr. H. Alfani Daud, MA, Guru Besar Antropologi Budaya Pascasarjana IAIN Antasari Banjarmasin. Dari hasil penelitian disusun ke dalam aplikasi sisilah yang dikenal Family Tree Maker.

 

Dalam perjalanan karirnya Gusti Khairul Saleh merintisnya dengan menjadi di birokrat di pemerintahan. Berbekal pendidikan Sarjana Teknis Sipil yang diperolehnya dari Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat ia diangkat sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) di lingkungan Departemen Pekerjaan Umum di Kota Banjarmasin pada tahun 1992.

 

Di lingkungan kerjanya Gusti Khairul Saleh dikenal sebagai sosok pekerja keras oleh rekan dan atasannya. Demikian pula ia selalu melaksanakan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi. Berkat kerja keras dan dedikasinya itu ia mendapat penghargaan kenaikan pangkat istimewa dari pimpinannya, H. Sofyan Arpan, Walikota Banjarmasin kala itu.

 

Wujud prestasi hasil kerja keras dan dedikasi Gusti Khairul Saleh antara lain berupa keberhasilannya menyelesaikan program Bank Dunia lebih tiga tahun lebih cepat dari target waktu yang ditetapkan. Dengan pendekatan crash program, Program Bank Dunia berupa Kalimantan Urban Development Project untuk sektor Urban Road bisa diselesaikan dalam waktu empat tahun dari target tujuh tahun yang ditetapkan.

 

Pembangunan infrastruktur publik di Kota Banjarmasin makin kencang dilakukan Gusti Khairul Saleh setelah pada tahun 2004 ia diberikan amanah oleh H. Sofyan Arpan Walikota Banjarmasin kala itu untuk menduduki jabatan Kepala Dinas Permukiman dan Prasarana Kota. Sehingga tak heran bagi masyarakat Kota Banjarmasin, sosok Suami Dra. Hj. Raudatul Jannah,M.Si, dan ayah dari H. Gusti Dhia Hidayat serta Hj. Gusti Dhia Karima ini menjadi dekat di hati masyarakat.

 

Dengan kepercayaan jabatan yang diberikan kepadanya itu semakin banyak karya yang dibuatnya. Karya-karya tersebut antara lain dengan menggagas dan mewujudkan pembangunan berbagai sarana infrastruktur publik strategis seperti pembangunan jalan, jembatan, pembangunan drainase dan rintisan kota berkembang baru di Kota Banjarmasin. Infrastruktur publik tersebut antara pelebaran dan pembangunan jembatan  beton  Jalan Jafri Zamzam, pembangunan Jembatan Rangka Baja di Kelurahan Alalak yang menghubungkan Kelurahan Alalak dengan Kelurahan Kuin, pembangunan Jembatan Pertamina Kuin dan peletakan batu pertama pembangunan Jembatan RK Ilir Kelayan Luar sebagai solusi meretas kemacetan lalu lintas di jalur Selatan Kota Banjarmasin.

 

Di bidang pelayanan air bersih Gusti Khairul Saleh mempelopori upaya peningkatan kapasitas layanan PDAM yakni dengan melaksanakan pembangunan Intake Sungai Tabuk berkapasitas 1200 meter kubik perdetik pada tahun 2003/2004. Dengan terbangunnya Intake tersebut maka PDAM Bandarmasih menjadi PDAM terbaik di Indonesia, dengan tercapainya cakupan pelayanan sebesar 98%.

 

Menjadi  Bupati Banjar

 

Disamping kesuksesannya meniti karir sebagai birokrat, dengan pengalaman dan relasinya yang cukup luas didukung kesantunan pribadi akhirnya mengantarkan Gusti Khairul Saleh menjadi seorang Bupati. Bersama pasangannya Tuan Guru H Hatim Salman, Lc, ia terpilih menjadi Bupati dan Wakil Banjar Periode 2005-2010.

 

Dalam jabatannya sebagai seorang Kepala Daerah, Gusti Khairul Saleh kembali membuktikan kemampuannya. Dengan kerja cerdas, kerja keras, dan kerja ikhlas untuk kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya ia  telah berhasil membangun Kabupaten Banjar.

 

Karena keberhasilnnya itu maka masyarakat mempercayakannya untuk menjabat sebagai Bupati Banjar untuk kedua kalinya yakni periode 2010-2015. Pada masa jabatannya yang kedua ini Gusti Khairul Saleh berpasangan dengan Drs. H Akhmad Fauzan Saleh, M.Ag.

 

Pada periode kedua kepemimpinannya ini, pembangunan Kabupaten Banjar semakin pesat.  Hasil-hasil pembangunan baik yang bersifat fisik maupun non fisik terus mengalami peningkatan terlihat dari berbagai indikator. Pembangun fisik terlihat dari peningkatan kualitas infrastruktur jalan dan jembatan terlebih untuk kawasan perdesaan melalui pembangunan jalan-jalan poros desa. Jembatan yang dulu sejak diawal kepemimpinannya sebagian besar terbuat dari bahan kayu ulin yang kondisinya memprihatinkan  karena termakan usia,  kini lebih  kokoh dengan konstruksi baja maupun beton.

 

Infrastruktur publik lainnya yang menjadi perhatian khusus dari Gusti Khairul Saleh adalah kantor pemerintahan khususnya Kantor Kepala Desa atau disebut juga Kantor Pambakal. Ia menyadari betapa pentingnya Pemerintahan Desa sebagai ujung tombak pelayanan Pemerintah Daerah, sementara kondisi di Kabupaten Banjar selama ini menunjukkan bahwa tidak semua desa memiliki kantor dan jika memilikipun kondisinya lebih banyak yang memprihatinkan. Dengan program khususnya maka saat ini di Kabupaten Banjar tidak ada kepala desa atau pembakal yang tidak memiliki kantor. Demikian pula untuk meningkatkan kualitas pelayanan-pelayanan dasar lainnya, Gusti Khairul Saleh juga terus memacu pembangunan puskesmas, poliklinik desa, sekolah dan prasarana pendidikan lainnya.

 

Karya pembangunan  monumental lain yang dibangun oleh Bupati Gusti Khairul Saleh adalah kesuksesannya membangun Lapangan Sepak Bola Demang Lehman yang berstandar nasional. Karena standar yang dicapai maka dipercaya untuk digunakan sebagai stadion pelaksanaan laga Indonesia Super League (ISL) 2013. Karna kepercayaan ini maka Kabupaten Banjar, dan lebih khusus Kota Martapura semakin dikenal oleh masyarakat Indonesia.

 

Disamping pembangunan stadion olah raga berstandar nasional juga dibangun berbagai prasarana dengan skala cukup besar antara lain Gedung Dekranasda, Guest House Sultan Sulaiman, melanjutkan pembangunan RSUD Ratu Zaleckha sehingga memadai sebagai rumah sakit rujukan, pembangunan Gedung Iqra sebagai tempat pengkajian Alquran dan syiar Islam, dan pembangunan Taman Terbuka Hijau atau Alun Alun Ratu Zalecha sebagai salah satu bentuk upaya perbaikan lingkungan hidup dan penyediaan fasilitas rekreasi dan olah raga masyarakat Kota Martapura.

 

Gusti Khairul Saleh juga mencanangkan gagasan pengembangan wilayah kota Martapura ke arah Timur, dengan direncanakannya pemindahan Komplek Perkantoran Pemerintah Kabupaten Banjar di kawasan baru yang dinamakan beliau Martapura Jadid. Martapura Jadid akan menjadi peninggalan beliau, yang juga menjadi bukti betapa visi pembangunan beliau meliputi seluruh kegiatan pembangunan baik fisik maupun non fisik.

 

Martapura Jadid merupakan tonggak awal perkembangan Kota Martapura, yang berwawasan lingkungan dan berlandaskan perencanaan tata ruang (eco-friendly and spatial based city development). Didirikan diatas lahan seluas 100 Ha, yang berada di Kecamatan Martapura dan Kecamatan Karang Intan. Konsep Martapura Jadid mengacu pada kehidupan masyarakat Banjar yang akrab dengan air, dengan luasan ruang terbuka hijau yang melebihi 50% luas kawasan komplek perkantoran, meliputi danau, kanal, dan hutan kota serta taman.

 

Dalam komplek perkantoran itu akan didirikan seluruh bangunan perkantoran dalam lingkup Pemerintah Kabupaten Banjar, yaitu Kantor Bupati atau Sekretariat Daerah, Balai Rakyat (Gedung DPRD), seluruh kantor SKPD, Masjid Raya, Balai Agung (Convention Hall), Pasar Rakyat Shopping Mall, Café ‘n Resto Area, dan bangunan pelengkap lainnya.

 

Kepedulian Bupati Gusti Khairul Saleh terhadap lingkungan, telah menempatkan Martapura sebagai salah satu penerima anugerah penghargaan lingkungan dari Pemerintah Pusat. Pada era kepemimpinannya lah, Kota Martapura berhasil meraih anugerah Adipura 2012 untuk Kategori Kota Kecil. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia pada saat Peringatan Hari Lingkungan Hidup di Istana Negara, pada tanggal 5 Juni 2012. Penghargaan Adipura memang tidak mudah didapat, setelah 26 tahun Adipura dianugerahkan pada daerah-daerah yang berhasil mengelola lingkungan dengan baik, baru pada tahun 2012 ini lah Martapura mendapatkannya.

 

 

Menjadi Sultan Banjar

 

Berangkat dari keprihatinannya terhadap kondisi sosial masyarakat dewasa ini yang semakin kehilangan jati diri apalagi untuk masyarkat Banjar yang dikenal pula sebagai Urang Banjar, mendorong Gusti Khairul Saleh berfikir mencari solusi dengan pendekatan yang tepat. Dibekali dengan perhatian dan ketertarikannya dengan budaya dan sejarah, maka ia berfikir perlunya membangkitkan kembali Kesultanan Banjar sebagai akar budaya dan sejarah Urang Banjar. Kesultanan Banjar sendiri hanya menjadi sejarah yakni semenjak dibubarkan oleh pemerintah kolonial 152 tahun yang lalu.

 

Upaya Gusti Khairul Saleh mengangkat kembali budaya keelokan Kesultanan Banjar dilandasi oleh keinginan mempertahankan tradisi budaya lokal khususnya Kesultanan Banjar. Budaya Banjar yang berakar pada Kesultanan Banjar telah lama tertidur. Menurut Pria murah senyum ini Kesultanan Banjar hanya sebagai simbol budaya dan pemersatu orang Banjar. Sejak dibubarkan Belanda Urang Banjar tidak lagi memiliki wadah berhimpun yang menjadi ikon budaya sebagai perwujudan indentitas.

Upaya Gusti Khairul Saleh ini spontan mendapat dukungan dari para tetuha (tokoh dan kaum tua) dan mengisitilahkan upaya ini sebagai upaya “maangkat batang nang tarandam”  (mengangkat kayu yang terendam).

 

Mewujudkan keinginan luhur ini tidaklah mudah. Namun dengan tekad keras dan upaya yang intens Gusti Khairul Saleh berhasil menjalin kerja sama dengan sejumlah tokoh khususnya kerabat Kesultanan Banjar yang bertebaran  tidak hanya di Kalsel tetapi juga yang berada di berbagai penjuru Indonesia dan bahkan mancanegara.

 

Setelah lama mengalami kevakuman, para zuriat Kesultanan Banjar bertekad “Maangkat Batang Tarandam” untuk menghidupkan kembali Kesultanan Banjar. Maka melalui musyawarah Tinggi Adat, para zuriat yang tergabung dalam Lembaga Adat dan Kekerabatan Kesultanan Banjar (LAKKB), menyelenggarakan Musyawarah Tinggi Adat Lembaga Adat Kekeraatan Kesultanan Banjar (LAKKB) di Hotel Arum Banjarmasin, 24 Juli 2010dan memutuskan menganugerahkan gelar Pangeran sekaligus Raja Muda Kesultanan Banjar  kepada  H. Gusti Khairul Saleh.

 

Dengan status dan gelarnya sebagai Raja Muda, Pangeran Khairul Saleh juga menjalin silaturahmi dengan tokoh-tokoh raja dan sultan se Nusantara melalui berbagai forum komunikasi kekerabatan bahkan yang bersifat internasional.  Silaturahmi yang bersifat internasional ini antara lain berupa partisipasi mementaskan kesenian budaya di acara Tong- Tong Fair, Denhaag, Negeri Belanda pada bulan Mei 2011. Kegiatan ini dilaksanakan atas undangan Kementerian Budaya dan Pariwisata RI kepada Delegasi Seni Budaya Kesultanan Banjar. Karena dinilai sukses maka Pemerintah  Pusat melalui Kementerian Budaya dan Pariwisata RI kembali meminta Kesultanan Banjar untuk kembali tampil di acara yang sama pada  bulan Mei 2012.

mulianya-ulama-taatnya-umara

Ketulusan Bupati Banjar ini dalam upaya pelestarian adat dan tradisi budaya Banjar serta adanya anugera dari para raja dan sultan se nusantara membuat sosok pria rendah hati ini makin terkenal di kancah nasional maupun internasional sebagai salah satu tokoh pelestari budaya nasional. Didasari penilaian dan kerja kerasnya dalam melestarikan kearifan budaya lokal itulah, melalui Rapat Dewan Mahkota Banjar yang di  dalamnya terdiri dari para tokoh adat dan tetuha dzuriat Kesultanan Banjar, bertepatan dengan peringatan puncak Milad ke- 508 Kesultanan Banjar, Pangeran H. Khairul Saleh dinobatkan sebagai Sultan Banjar pada November 2012, dengan nama dan gelar kesultanan Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu’tashim Billah zuriat dari Pangeran Singosari bin Sultan Sulaiman. Sebagai catatan, pada masa kemelut Perang Banjar, hanya Pangeran Singasari (saudara Sultan Adam) dan Pangeran Surya Mataram (anak Sultan Adam) yang masih dipercaya oleh rakyat Banjar sebagai tempat mengadukan segala permasalahan pada masa itu. Pangeran Singosari merupakan “perwakilan” Kesultanan Banjar di Banua Lima.

Sultan Haji Khairul Saleh Al Mu’tashim Billah juga mempunyai hubungan kekerabatan yang sangat dekat dengan pahlawan nasional Pangeran Antasari sampai kepada Ratu Zaleha yang merupakan tokoh perlawanan utama dalam mengusir penjajah pada Perang Banjar Barito.

Sultan Haji Khairul Saleh dengan Pangeran Antasari memiliki satu garis keturunan yang sama ditarik dari Sultan Sulaiman. Sanggah (ayah dari datu) Sultan Haji Khairul Saleh bersaudara kandung dengan ibu dari Pangeran Antasari. Sehingga tidak salah kiranya Sultan Haji Khairul Saleh dipilih oleh Dewan Mahkota untuk meneruskan membina Kesultanan Banjar pada masa kini.

kerabat antasari sultan