KITAB PANTUN BABASA BANJAR

KITAB PANTUN BABASA BANJAR


 
 

SEKAPUR SIRIH

 

Sultan Haji Khairul Salleh Al Mu’tashim Billah

 
 
Assalamualaikum Wr.Wb.
 
Bila negeri pantun berpunya
Pertanda tinggi adat budaya
Bila negeri maruah berpunya
Pertanda tinggi peradabannya
 

Kedudukan pantun, peribahasa dan ungkapan-ungkapan pada masyarakat Melayu tak terkecuali etnik Melayu Banjar, memiliki tempat tersendiri. Peribahasa, ungkapan dan pantun merupakan alat komunikasi yang dianggap santun dan beradab dalam menyanjung, menyindir termasuk menasehati. Peribahasa, ungkapan dan pantun pada masyarakat Banjar selalu dituangkan menjadi kalimat Papadah yang bertujuan utama untuk menasehati. Disinilah peradaban sastra Banjar mencapai puncaknya, ketika orientasi sastra tradisi ini didedikasikan untuk tujuan yang mulia, mencerahkan dan menyebar kebaikan.

 

Ulun sangat memberikan apresiasi, jika perkembangan sastra tradisi seperti peribahasa, ungkapan dan pantun itu tetap menjunjung nilai-nilai adab, kesantunan dan menjunjung maruah agama Islam yang menyeru kepada amar ma’ruf nahi mungkar dimana setiap produk kebudayaan Banjar itu dominan berlandaskan dan bercirikan tujuan-tujuan mulia dan kebaikan. Tidak sekadar hadir karya tanpa memiliki roh dan nilai-nilai adab dan agama.

 

Disinilah tanggung jawab Kesultanan Banjar untuk meluruskan dan mereorientasikan setiap produk seni dan sastra budaya Banjar tetap menjunjung maruah adab dan nilai – nilai agama. Karena sekian abad sepanjang hidup tumbuh Kesultanan Banjar telah mampu mencapai peradaban bangsa Banjar yang religius, dikarenakan ada tatanan yang dibangun Kesultanan lewat produk Undang-Undangnya hingga menjadi adab dan adat masyarakat Banjar umumnya. Termasuk karya seni sastra dan budaya Banjar yang kita rasakan hari ini. Terintegrasinya produk seni, sastra dan budaya dalam balutan nilai-nilai agama inilah sebagai puncak harapan karya-karya anak-anak bangsa Banjar hingga di masa mendatang.

 

Tiadalah mengherankan pada masa lalu, seorang Tuan Guru itu dia juga seorang sastrawan. Sebab karyanya tidak sekadar pada kemampuan bahasa verbalnya, tetapi kemampuannnya menuliskan pikiran-pikiran keagamaan dalam bahasa yang indah lagi elok dibaca (pakurunan, kitab-kitab besar para Tuan Guru), dan atau dia tuangkan dalam lantunan syair dan pantun tentang cerita Maulid dan Isra Mikraj Rasul Muhammad SAW.

 

Kemudian pula seorang sastrawan, dia juga mampu menuangkan rasa keberagamaan dia ke dalam karya pantun, peribahasa sehingga ada amal jariah yang dibangunnya untuk generasi mendatangnya. Inilah yang ulun maksudkan bahwa karya monumental yang pernah dimiliki bangsa Banjar memiliki keberartian dan turut membangkitkan peradabannya sendiri. Ulun meyakini, ada masanya dimana kita akan mampu merevitalisasi secara komprehensif karya sastra seni dan budaya Banjar tetap menjunjung maruah dan nilai-nilai agamanya.

 

Dalam kesempatan ini, ulun menyambut setinggi-tingginya penghargaan atas karya YM. Datuk Mangku Adat Haji Adjim Arijadi Bin Haji Arsyad Bin Saleh, karena karya sastra Kitab Pantun Banjar ini memenuhi kreteria nilai-nilai yang menjunjung maruah adab dan nilai-nilai agama. YM Datuk Adjim Arijadi, beliau kita kenal tidak sekadar seorang seniman serba bisa, sastrawan serba mampu, tetapi adalah seorang budayawan yang mampu menyandingkan keterampilan, kemampuan praktek seni-sastra dengan ketajaman pikirannya tentang kebudayaan Banjar. Kemampuan seni sastra bisa kita rasakan dari produk-produk karya sastranya yang tak terbilang dan berwaris dari generasi ke generasi. Ketajaman pikirannya adalah kemampuannya men jaga, memelihara, mengkritisi, merawat adat budaya leluhurnya lewat fatwa, papadah dan karya tulisnya. Sebuah kemampuan langka dimiliki budayawan yang serba bisa milik bangsa Banjar hari ini.

 

Buku Kambang Rampai Kitab Pantun Babasa Banjar ini, menunjukkan sebuah karya yang mampu membaca zamannya. YM Datuk Adjim telah menorehkan fenomena sosial budaya bahkan politik yang berlangsung pada masyarakat sekitarnya. Datuk Adjim sepertinya tidak mampu melewatkan gambaran zaman berlangsung tanpa ada sebait atau dua bait pantun, sehelai atau dua helai halaman. Inilah dedikasi terhadap merawat adat budaya leluhur yang tiada lawan. Produk pantun ini bukanlah sebuah produk yang dikerjakan “ semalam suntuk” selesai berhelai-helai kertas dan beratus-ratus pantun, karena karya datuk ini bukan karya pesanan untuk sekali pementasan. Karya YM Datuk Adjim adalah karena buah perenungan dari waktu ke waktu dengan kesabaran membaca, menelaah zaman masyarakatnya, sehingga hadirlah Kambang Rampai Kitab Pantun Babasa Banjar (KRKPBB) ini sebagai ingkutan (pegangan).

 

Karya Kambang Rampai Kitab Pantun Babasa Banjar ini, kita harapkan sebagai karya yang mampu dicerna dan ditelaah oleh generasi hari ini dan mendatang. Tiada disangsikan lagi Kambang Rampai Kitab Pantun Babasa Banjar ini meng andung nasehat, adab mengkritik, papadah, cerita, homur bahkan gundah gulana seorang datuk mangku adat atas masa depan budaya bangsanya. Kegelisahan demikian harus menjadi nilai warisan bagi generasi, agar memahami seni, sastra dan karya budaya bukan sekadar budaya (makna sempit), tetapi mampu menajamkan mata hati untuk menjunjung maruahnya dan harga diri bangsanya. Teladan demikian yang harus menjadi ingkutan bagi kita semua. Sekali lagi sebuah karya seni sastra dan budaya bukan berapa banyak produknya, tetapi maruah dan nilainya yang utama berguna bagi umat manusia. Dan ini harus menjadi cita-cita pegiat, pekarya seni sastra dan budaya Banjar di masa mendatang.

 

Sekali lagi YM Datuk Adjim telah menancapkan karyanya dengan nilai yang bertuah sebagaimana berikut.

 

Apa guna pantun Banjar
Malayu Islam manjadi dasar
Dimana Banjar badiam
Pada adat batihang Islam
Adat Banjar jadi paingkutan
Baingkut ka Hadist wan Al-Qur’an

 

Sekali lagi, ulun mengucapkan terima kasih dan bangga atas karya ini. Semoga karya YM Datuk H Adjim Arijadi Bin Haji Arsyad Saleh ini memberikan inspirasi baru dan teladan bagi generasi bangsanya dan semoga kita semua dalam keadaan Baiman Bauntung Batuah.

 

Amin.

 

 
Martapura, 24 Juni 2015/ 7 Ramadhan 1436 H

 
 

Sultan Haji Khairul Salleh Al Mu’tashim Billah