Berita
Home Adat Banjar Acara Milad ke-510: Batimung

Acara Milad ke-510: Batimung

Acara Milad ke-510: Batimung
Ersa Fahriyanur | 29 October 2014

Rangkaian Acara Milad ke-510 Kesultanan Banjar

Hari Rabu, tanggal 29 Oktober 2014. Mahligai Sultan Adam

 

Acara Batimung

 

mulai batimung

Setelah acara bakasai sudah selesai dilaksanakan maka langkah selanjutnya adalah proses batimung. Prosesi batimung merupakan rangkaian dari prosesi bakasai. Jika bakasai membersihkan kotoran melekat di badan, maka batimung merupakan prosesi membersihkan kotoran dari dalam badan seperti menghilangkan bau badan, mengeluarkan angin dan racun dalam badan (detoksifikasi) agar badan penganten selalu segar dan sehat. Selain itu, Batimung ini dimaksudkan agar mempelai khususnya perempuan tidak selalu mengeluarkan keringat pada saat bersanding karena akan melunturkan bedak dan riasan. Batimung ini untuk memastikan bau badan penganten selalu wangi dan harum

 

Mempelai laki-laki Gusti Dhia Hidayat memulai lebih dulu proses batimung setelah menyelesaikan prosesi bakasai. Di dalam acara ini sudah disiapkan satu bilik kecil diselubungi kain kuning khas Kesultanan Banjar, mempelai pria menuju bilik batimung ditemani tetuha perempuan.

 

Setelah peralatan dan perlengkapan sudah disiapkan dan rempah-rempah timungan sudah direbus di dalam kwantan, maka kepada mempelai laki-laki dipersilahkan menduduki kursi kecil yang berada di dalam bilik timungan ditutupkan kain kuning tadi sampai menutupi seluruh badan kecuali dari leher ke atas.

batimung mempelai laki-laki

Kwantan berisi rempah-rempah dimasukkan ke dalam bilik timungan dan diletakkan dibawah kursi kecil diantara kedua kaki mempelai, dan sambil di dalam bilik timungan, kwantan ini diaduk-aduk oleh mempelai laki-laki. Akibat proses pengadukan ini uap air panas yang sudah bercampur rempah-rempah akan memenuhi ruangan di dalam bilik timungan dan memicu keluarnya keringat dan aroma rempah-rempah akan terserap masuk ke tubuh.

 

Timungan dinyatakan selesai apabila air rebusan rempah-rempah sudah tidak terasa hangat lagi, maka bilik timungan akan dibuka dan mempelai laki-laki dibersihkan keringatnya yang keluar dengan handuk. Proses ini boleh diulang beberapa kali tergantung keinginan, tetapi biasanya diulang sampai 3 kali.

 

Setelah mempelai laki-laki keluar bilik timungan dan dibersihkan keringatnya dengan lap maka mempelai laki-laki dipersilahkan untuk meninggalkan tempat acara dan menuju kamar ganti.

 

batimung mempelai wanita

Selanjutnya mempelai wanita dipersilahkan untuk menuju bilik timungan. Proses yang berlangsung sama dengan yang dialami oleh mempelai laki-laki. Dalam prosesi batimung adat keraton Kesultanan Banjar disediakan peralatan seperti bangku kecil, kuantan untuk merebus air dan bahan rempah-rempah, tempat timungan/bilik timungan. Kalau zaman dulu digunakan tikar purun dan kain kuning pembalut wadah timungan, untuk masyarakat awam biasanya digunakan kain bahalai untuk mempercantik tampilan tetapi umumnya cukup tikar purun saja.

 

Air panas rebusan yang di dalam kuantan berisi rempah-rempah seperti daun laos, serai wangi, kulipak kayu manis, daun nilam, daun limau purut dan bunga-bungaan seperti bunga melati, mawar dan bunga tanjung. Seperti proses pada mempelai pria, proses batimung bagi mempelai wanita juga akan berakhir apabila air rebusan rempah-rempah sudah tidak terasa panas lagi.

 

Karena adat Banjar mengedepankan nilai-nilai agama Islam, prosesi batimung tidak selalu diniatkan dalam rangka membersihkan hal-hal yang bersifat zahir, tetapi diniatkan juga untuk membersihkan hati dan kesungguhan dalam berumah tangga untuk selalu berpegang pada kebersihan nilai-nilai adat dan agama.

 

AMBIL LENGKUAS DI DALAM NAMPAN

TARUH DAN REBUS DALAM KUANTAN

AGAR PENGANTEN KELIHATAN CANTIK DAN TAMPAN

ADAT BATIMUNG DINIATKAN HANYA KEPADA TUHAN

 

Ritual upacara bakasai maupun batimung ini dalam adat keraton Kesultanan Banjar selalu diiringi dengan tetabuhan astaprana irama sarinding sedayo oleh para tetabuhan keraton.

astaprana