Website Kesultanan Banjar

  • Full Screen
  • Wide Screen
  • Narrow Screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Penobatan Raja Muda Kesultanan Banjar

Penobatan Raja Muda Kesultanan ...

Sang Ibu Mandikan Khairul

Sang Ibu Mandikan ...

Kesultanan Banjar

Kesultanan ...

Badudus Raja Muda Kesultanan Banjar Kalimantan Selatan

Penobatan sang raja digelar dalam acara budaya di Mahligai Sultan Adam, Martapura, Minggu (12/12). Rangkaian prosesi sudah dilakukan sejak Rabu (8/12). Jumat (10/12), Khairul dan 14 tokoh Banjar yang bak...

http://kesultananbanjar.com/en/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/850523163449_177822275580754_100000589496907_512876_2482599_n.jpg
http://kesultananbanjar.com/en/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/37955468235_183795814969545_100000173821868_736996_2035887_n.jpg
http://kesultananbanjar.com/en/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/257943164635_178660878830227_100000589496907_518643_2720096_n.jpg
http://kesultananbanjar.com/en/components/com_gk2_photoslide/images/thumbm/988351163236_178604602169188_100000589496907_518253_2305626_n.jpg
News Image

Penobatan Raja Muda Kesultanan Banjar

Penobatan Raja Muda Kesultanan Banjar...

News Image

Sang Ibu Mandikan Khairul

Sang Ibu Mandikan Khairul...

News Image

Kesultanan Banjar

Kesultanan Banjar...

News Image

Badudus Raja Muda Kesultanan Banjar Kali

Penobatan sang raja digelar dalam acara buda...

Benarkah Orang Banjar Katuju Bacakut Papadaan

E-mail Print PDF

Benarkah Orang Banjar Katuju Bacakut Papadaan

oleh: Datu Mangku Adat H Syarifuddin R
(dari buku: Merawat Adat - terbitan UPT Taman Budaya Kalsel dan Pustaka Banua tahun 2013)

 

Pendapat yang menyatakan bahwa orang Banjar katuju bacakut papadaan, merupakan ungkapan merugikan yang perlu diluruskan dan dicermati kembali. Diduga adanya ungkapan tersebut didasarkan pada pengalaman atas kasus-kasus yang pernah terjadi, ketika gagal mengharapkan sesuatu yang diinginkan bersama. Disebabkan tidak dapat memenuhi harqapan bersama, maka dijadikan alasan untuk menyatakan bahwa kegagalan itu disebutkan karena bacakut papadaan. Setiap terjadi persaingan sesama orang Banjar, terlebih lagi terkait bidang politik untuk mendapatkan kedudukan tampuk pimpinan daerah cenderung mengalami ketidak-kompakan dan harus ada yang dikalahkan. Pengalaman tersebut menjadikan masalah perkembangan kehidupan berdemokrasi dengan mudahnya dihasut agar tidak menjadi akur. Malah pernah terjadi seorang tokoh memerlukan dukungan bahkan mendapatkan yang sebaliknya, yakni bermunculan isu negatif untuk melemahkan posisinya. Kejadian itu tercipta sebagai dampak dari cap orang Banjar katuju bacakut, sehingga tidak mendapat simpati. Atas dasar itu tidak jelasnya ungkapan yang melekat pada masyarakat Banjar itu, kemudian memunculkan akibat yang mengarah pada persaingan yang tidak sehat.

Persaingan yang tidak sehat itu muncul karena adanya penilaian subyektif terhadap tingkah laku ataupun moralitas seseorang yang menjadi pesaing. Seseorang dengan mudah dinyatakan memiliki derajat dan kemampuan yang kurang, sehingga sulit mendapatkan dukungan. Pengertian derajat dan kemampuan disini adalah figur seseorang dinilai kurang layak untuk menduduki atau mendapatkan jabatan yang tengah diperebutkan. Walaupun penilaian tersebut ditinjau dari berbagai aspek, namun ukuran/kriteria dan faktanya tidak jelas. Mungkin saja asalnya disebabkan persoalan pribadi atau kelompok yang sengaja dihembuskan untuk menjatuhkan. Perbedaan pandangan semacam ini melahirkan ketidakharmonisan terhadap program kegiatan yang dilaksanakan. Akhirnya dalam menjalankan kebijakan yang menjadi hajat bersama senantiasa mendapat tekanan atau digoyang terus menerus. Karenanya setiap yang dikerjakan tidak pernah mencapai sasaran yang maksimal atau bahkan bisa gagal.

Sesuatu yang biasa pula terjadi di Banua Banjar, jika masih dalam tahap memperebutkan kedudukan, tidak jarang dilakukan dengan cara menerapkan persaingan dalas lucung. Suatu tujuan alternatif yang sesungguhnya tidak berbentuk hasilnya, tetapi tetap dilakukan. Diawali sikap bahawa hanya ia atau kelompoknya saja yang pantas mendapatkan kedudukan yang diperebutkan. Jadi yang ada dalam pikiran cuma prinsip kemenangan semata (siap menang), sehingga jika kalah, tak ada persiapan mental untuk itu. Apabila diketahui sulit untuk memenangkannya, pesaingnya harus pula diupayakan agar tidak mendapatkannya. Tak peduli yang akan memenangkan itu adalah rekan sesama orang Banjar sendiri. Klimak dari persaingan ini adalah biar lucung badadua atau lucung barataan (kedua belah pihak yang bersaing tersebut tidak ada yang mendapatkannya). Konon perlakukan semacam ini juga adalah sebuah kemenangan dalam bentuknya yang lain. Uniknya jika peluang jabatan atau kedudukan tersebut diambil/dimenangkan oleh lain, mereka sama-sama mendukungnya.

Kepuasan yang semu

Jika ada orang atau kelompok yang merasakan sesuatu kepuasan, padahal dalam posisi tidak memenangkan sesuatu bahkan mungkin kalah, itu adalah gambaran orang yang katuju bacakut papadaan. Sebagaimana diutarakan di atas, walaupun tidak memenangkan apa-apa, namun merasa puas karena saingannya juga tidak mendapatkannya. Dalam menyikapi hasil kerja atau karya orang lain yang juga adalah temannya sendiri tak jarang pula menimbulkan kontroversi. Misalnya yang pernah terjadi pada festival/perlombaan ketika ditetapkan juaranya atas dasar hasil keputusan dewan juri atau tim seleksi, maka yang kalah berusaha mencari berbagai argumentasi agar bisa mematahkan keputusan yang telah ditetapkan. Pihak yang meraih predikat juara tersebut harus dibuat tidak bisa tenang, sehingga dilakukan berbagai cara untuk mengusiknya. Beragam celaan dan sisi negatif atau kelemahan diarahkan kepada sang juara yang menerima kemenangan tersebut. Dicari dan dikorek kesana kemari peluang-peluang yang dapat melemahkan posisi kawan/lawan yang berhasil itu supaya masyarakat mengetahui bahwa pilihan itu salah dan masih ada lagi yang hebat, yakni ampunnya atau anggit bubuhannya. Kenyataan tersebut patut pula dipertanyakan apakah juga orang Banjar memiliki sifat susah mengakui kemenangan kawan sendiri ataukah menjadi kodrat komunitas suku bangsa manapun dalam kehidupan bersosialisasi. Tetapi sesuatu yang pasti adalah bahwa apabila dinyatakan terbaik atau juara itu ada yang mencercanya, maka mereka yang kalah bersaing tersebut senang dan puas jiwa raganya. Sekiranya celaan sulit diarahkan kepada pesaing yang menang itu, maka kejelekan harus ditujukan kepada mereka yang memilihnya (mungkin namanya dewan juri atau tim seleksi yang terlibat menentukan). Persoalannya bukan lagi bertitik tolak pada kebenaran kritik yang dilontarkan, namun menolak hasil keputusan yang tidak berpihak kepadanya. Disebabkan kemenangan atau keberhasilan berada di tangan orang lain, maka jika dapat menyumpahi yang memberikan penilaian atau bahkan kepada lembaga yang melaksanakannya hal itu berarti sebuah kehebatan yang sama nilainya dengan kemenangan. Mereka yang mampu melakukan perbuatan menyumpahi dewan juri ataukah paniti pelaksana sudah pasti bergelar paragah panahunya (seakan dia saja yang paling tahu dan hebat segala-galanya). Orang yang memiliki sifat paragah panahunya tersebut sulit dapat mengerti orang lain. Segala sesuatunya hanya diukur dengan kemampuan dan kehebatannya sendiri, yakni menurut ilmu penglihatan, pendengaran (dengar-dengar) dan ditambah sejumlah dugaan yang diketahui melalui isu-isu yang belum tentu pasti kebenarannya.

Perasaan tidak senang melihat orang lain menang atau sukses ini erat kaitannya dengan sikap katuju bacakut papadaan. Biasanya pula penyataan kekecewaan pribadi atau kelompok itu tidak cukup hanya dibicarakan antar kelompok, tetapi semakin hebat lagi kalau bisa disebarkan dan ditulis/dimuat pada surat pembaca di koran-koran. Di sini terlihat jelas tujuannya adalah untuk menghancurkan atau mempermalukan, sama dengan malunya mereka kalah. Dalam menulis kecaman tidak jarang menggunakan nama samaran yang dimaksudkan agar nantinya mudah menyebarluaskan beritanya tanpan dituduh sebagai orang yang tidak bisa menerima kekalahan. Padahal dengan cara menyebarluaskan ke mana-mana justru membuka kedoknya sendiri sebagai penulisnya yang tidak puas atas hasil yang ditetapkan. semua itu dilakukan hanya untuk mendapatkan kepuasan semu dan biasanya kalau sudah melakukannya diiringi dengan ucapan atau perkataan puas sudah aku atau kami. Beranjak dari sini mungkinkah pula orang Banjar tidak memiliki jiwa kekitaan. Seharusnya keberhasilanmu adalah juga keberhasilan kita, namun sayang yang biasa terjadi adalah sebaliknya bahwa kekalahanku harus pula menjadi kekalahanmu, sehingga konflik tercipta terus. Hal itu pulalah yang menyebabkan tak ada doa yang mengiringi untuk sang pemenang, dan apabila tidak berhasil di tingkat lanjutan (nasional), maka hinyikan atau hujatan datang bagai air bah yang mengalir tak terkendali.

Melemahkan Kekuatan

Berdasarkan hanya contoh kasus-kasus yang terjadi seperti itu sulit mempercayai jika kebiasaan bacakut papadaan itu memang menjadi ciri yang menyertai kehidupan sosial orang Banjar. Artinya perlu ditelusuri kembali dengan cermat istilah bacakut papadaan tersebut apakah telah menjadi sifat yang dimiliki orang Banjar sebagai warisan budaya. Karena kalau merujuk sumbernya yang berasal dari petuah Pangeran Antasari yang berbunyi lamun tanah banyu kahada handak dilincai urang, jangan bacakut papadaan kita. Dari petuah ini dapat dianalisis setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, Pangeran Antasari memang mengetahui secara pasti kalau rakyatnya suka bacakut papadaan, sehingga tidak mungkin dapat mengalahkan belenggu penjajahan (Belanda). Kedua, hanyalah sebuah antipasi ke depan, bahwa Pangeran Antasari menyadari tidaklah mungkin bisa berhasil mencapai suatu tujuan apabila rakyatnya terlibat konflik, sehingga perlu diperingatkan sejak awal agar jangan bacakut papadaan. Dari kemungkinan tersebut tidak bisa pula diabaikan adanya politik pecah belah Belanda, yakni dengan sengaja menyebarkan isu-isu yang menyesatkan agar masyarakat Banjar terlibat konflik antar sesama. Dengan keadaan yang tidak saling mendukung antar kelompok masyarakat Banjar, tentunya dapat melemahkan semangat perjuangan. Apalagi ketika itu dibikin tidak bisa akur adalah pada tingkat elit pimpinan, sehingga Belanda dengan mudah bisa meletakkan orang-orang yang patuh pada mereka untuk menjadi pimpinan di sektor-sektor wilayah kekuasaan. Kemudian apa yang terjadi pada masa lalu itu, nampaknya berkelanjutan pula menjadi kenyataan dalam politik di bumi Antasari ini. Seperti pengalaman yang terjadi apabila yang menjadi pemimpin di banua adalah orang Banjar sendiri banyak rintangannya dan senantiasa digoyang dengan berbagai isu yang mengganggu kebersamaan dalam membangun daerah. Kritik yang seharusnya untuk kebaikan berubah maknanya menjadi mawada (meremehkan), akhirnya yang mengemuka dan mencuat ke permukaan adalah sifat yang katuju bacakut papadaan tersebut.

Tidaklah arif bagi kita untuk menyatakan bacakut papadaan itu sesuatu yang bersifat permanen dan merupakan tabiat orang Banjar. Seringkali kita terjebak dengan istilah katuju bacakut papadaan itu, sehingga mengakibatkan perkembangan dinamika berfikir menjadi buntu dan melemahkan kekuatan. Karena dengan cap suka bacakut papadaan itu telah menguatkan praduga untuk tidak perlu susah-susah mencari permasalahan masalah yang dihadapi. Alasannya bacakut papadaan itu telah dianggap lumrah, memang sudah ajal (sudah menjadi tabiat atau sifat urang Banjar). Padahal dengan cara membiarkan kritikan dan keluhan yang mencuat ke permukaan berdampak pada sikap apatisme masyarakat, dan pada gilirannya dapat menghambat program pembangunan yang telah direncanakan. Kurangnya dukungan dan mengemukakan wadaan-wadaan, akhirnya berkembang isu lain yang menyatakan kalau orang Banjar tidak mampu memimpin atau tidak bisa membangun daerah. Perselisihan alias bacakut antar sesama orang Banjar sering pula tak ada yang mau mengalah. Pemecahan masalahnya justru merugikan seperti keinginan untuk mencari figur baru yang bebas konflik. Padahal figur yang bebas konflik itu sepertinya telah diyakini hanya ada di luar orang Banjar. Terbukti dari beberapa pengalaman kasus menunjukkan bahwa kebanyakan yang bisa bertahan lama untuk memimpin di daerah Kalimantan Selatan justru mereka yang bukan orang Banjar. Secara historis jika dirujuk ke belakang lagi kondisi perpolitikan di tanah banua Banjar sejak dahulu kala hingga jaman pembangunan sekarang ini senantiasa terlibat konflik sesama. Sebagaimana diketahui dalam suksesi Kerajaan Daha terjadi konflik yang tak terelakkan antara Temanggung dan Pangeran Samudera yang penyelesaiannya terpaksa meminta bantuan dari Demak. Kenyataan sejarah ini secara tidak langsung menjadi referensi untuk mencapai suatu kemenangan atau penyelesaian masalah harus minta bantuan orang luar. Begitu pula suksesi yang terjadi di Kerajaan Banjar berikutnya karena adanya campur tangan Belanda dengan politik adu dombanya telah menimbulkan kekisruhan antara Hidayatullah dan Tamjidillah.

Pernik-pernik kehidupan bacakut papadaan ini terus berlanjut, seperti yang dialami para pejuang kemerdekaan dahulu diantaranya ada juga yang kecewa dengan kebijakan yang diterapkan pimpinan pejuang. Misalnya ketika dilakukan penyesuaian pangkat dan jabatan kemiliteran telah dirasakan tidak sesuai dengan pengabdian dan perjuangan mereka. Permasalahan adalah karena dari mereka sesama pejuan itu diketahui ada yang diuntungkan. Kecemburuan semacam inilah yang melahirkan bibit-bibit perseteruan, sehingga tidak bisa untuk saling mendukung sesama orang Banjar. Dapat pula dikemukakan misalnya mengapa Brigjen H Hassan Basry gagal menjadi Gubernur Kalimantan Selatan, padahal banyak yang menghendaki beliau untuk memimpin daerah. Penyebabnya adalah pada tingkat elit politik yang mendukung pencalonan H Hassan Basry tidak bulat, bahkan muncul pula calon lain tokoh partai sesama orang Banjar yang ikut bersaing dalam pemilihan menantang figur lainnya. Meskipun anggota DPRD yang memilih sebagian besar adalah orang Banjar, namun karena suara terpecah hasilnya dimenangkan oleh H Soebarjo Soeryosuroso. Berdasarkan berita kala itu dimunculkan juga penyebab kekalahan tersebut adalah karena bacakut papadaan. Padahal yang pasti dengan calon tokoh orang Banjarlebih 1 orang suara terbagi.

Instropeksi ke Depan

Dengan diberikan predikat suka bacakut papadaan tersebut pula dimanfaatkan untuk kepentingan politik, bahwa orang Banjar sulit menjalin hubungan kerja sama antara sesama. Sekarang dari sudut peluang untuk mendapatkan pimpinan daerah dengan kebijakan otonomi daerah ini orang Banjar lebih diuntungkan, karena keinginan dan tuntutan agar pimpinan putra daerah bisa diwujudkan. Dalam satu periode kepemimpinan harusnya dapat dilalui dengan mulus, jangan ada goncangan yang dialami. Tentu saja tidak bisa divonis kalah kesalahan hanya ada pada masyarakat Banjar yang seharusnya dapat mendukung orang banua yang sedang menjadi pemimpin.

Dalam situasi yang sudah terperangkap pada cap orang Banjar katuju bacakut papadaan tersebut, harus bisa diupayakan untuk mengembalikan pesan Pangeran Antasari yang menyuruh jangan bacakut papadaan. Hendaknya setiap persoalan yang mencuat ke permukaan mengalami jalan buntu dalam persilangan pendapat perlu segera dicarikan solusinya agar tidak terjadi bacakut papadaan yang berkelanjutan. Dengan begitu setiap orang yang terlibat dalam pertikaian hendaknya dapat menyikapi persoalannya dengan arif dan segera kembali menjunjung nilai hakiki papadaan yang berarti senasib sepenanggunan, seperuntungan, seiring sejalan dengan balutan kerjasama yang harmonis, bahu membahu dan saling membantu untuk melaksanakan tugas membangun banua.

Persoalan persaingan antar sesama adalah hal biasa dan sah saja, apalagi dalam politik. Tetapi yang menjadikan tidak biasa adalah dampak dari perkataan dan penyataan bahwa orang Banjar yang katuju bacakut papadaan itu telah menyebabkan orang Banjar kehilangan simpati yang bersifat universal, terutama dalam hal pemilihan pemimpin. Mengapa bisa demikian, karena telah terjadi penyiasatan yang salah atas ungkapan katuju bacakut papadaan tersebut. Akibatnya melahirkan pula pernyataan baru baru yang menyebutkan mangalihi haja mamilih papadaan (sidin ngitu) nanti sulit diajak kerjasama dan tidak bisa menerima masukan dari orang lain, sehingga menuai perselisihan saja. Persepsi memang menjadi tantangan bagi orang Banjar untuk bisa mengatasinya dan kalau perlu memunculkan paradigma baru yang juga bersumber pada khasanah budaya Banjar. Lalu kenapa tidak bisa kita kembangkan nilai-nilai kebersamaan yang sudah lama dimiliki, seperti barakat-rakat lawan bubuhan atau sarantang saruntung yang menunjukkan kekompakan dan saling mendukung. Entahlah, terserah orang Banjar sendiri.

Membuka Gerbang Kalimantan Selatan Melalui Istana Kesultanan Banjar

E-mail Print PDF

Bangkitnya Kesultanan Banjar yang Dimotori oleh Raja Muda Kesultanan Banjar H .Pangeran Khairul Saleh membangkitkan juga Budaya dan Sejarah Banjar. Dan dengan berdirinya Istana Kesultanan Banjar nantinya akan membuka gerbang dan cakrawala dunia untuk lebih mengenal kesultanan Banjar dan Kalimantan Selatan, terutama dari sisi budaya dan sejarah.

Gagasan Atau ide dari H. Pangeran Khairul Saleh yang ingin mewujudkan Istana Kesultanan Banjar( bukan replika) sebagai Istana tempat tinggal Sultan dan pusat pergelaran berbagai budaya khas Banjar.Akan menjadi  salah satu ikon wisata khas ke Kalimantan Selatan terutama dari segi wisata Budaya .Jika hal tersebut dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan ,maka itu merupakan karya monumental dan menjadi sejarah baru .

Untuk bisa membuka gerbang dan Cakrawala tersebut diperlukan banyak kerja keras dan kerjasama semua pihak, baik itu dari LAKKB  dan masyarakatnya.

UCAPAN SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH HAJI DARI RAJA MUDA KESULTANAN BANJAR

E-mail Print PDF

 

 

Assalamualaikum Wr Wb,

Saya Pangeran H. Khairul Saleh Dan Keluarga Kepada seluruh calon Jemaah Haji Kalimantan Selatan Mengucapkan "Selamat menunaikan ibadah Haji, mudah-mudahan diberi kesehatan , kesabaran dan ketabahan dalam menjalankan ibadah Haji di tanah suci Mekkah dan Madinah. Dan Tak Lupa Saya Doakan Semoga kita semua menjadi Haji yang mabrur, Amin Ya rabbal Alamin."

"Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam". (Q.S. Ali Imran : 97)

 

Page 1 of 5

  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  Next 
  •  End 
  • »

Pendapat Anda

Lokasi Paling Ideal Untuk Keraton Banjar, menurut Anda?




Results

Online Saat Ini

We have 2 guests online

Hubungi Kami

You are here: